Hello world!

A. HORMON – HORMON YANG BERKAITAN DENGAN PROSES GAMETOGENESIS PADA PRIA

Hormone reproduksi pria dihasilkan oleh sel – sel Leydig testis maupun kelenjar adrenal. Tiga steroid utama yang penting untuk fungsi reproduksi pria adalah testosterone, dihidrotestosteron dan estradiol. Hampir 95 % testosterone dihasilkan oleh jaringan intertisial sel Leydig dan sisanya dari adrenal. Selain testosterone, testis juga menghasilkan dihidrotestosteron dan androgen lemah yaitu dihidropiandosteron (DHEA) dan androstenedion. Sel – sel Leydig juga menghasilkan sedikit estradiol, estron dan pregnenolon, progesterone, 17a-hidroksipregnenolon dan 17a-hidroksiprogesteron.

Hormone yang menstimulasi proses spermatogenesis :

Testosterone, disekresi oleh sel – sel Leydig

LH disekresi oleh hipofise anterior, merangsang sel – sel Leydig untuk mensekresi testosterone.

FSH, mempengaruhi tubulus seminiferus pada sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis.

Estrogen

Growth Hormone

1. Testosteron

Testosterone adalah hormone steroid yang berasal dari prekusornya yaitu kolesterol. Testosterone dihasilkan oleh sel – sel Leydig yang pertama kali dihasilkan pada saat janin berumur 7 minggu dibawah pengaruh Hcg dan sekresi ini berhenti pada saat bayi pria berusia 1 minggu. Pada usia 1 minggu sampai pubertas (10/13 tahun) sekresi berhenti. Setelah usia 13 tahun sel Leydig aktif kembali, sekresi testosterone meningkat dengan tajam dan mencapai puncaknya pada usia dewasa.

2. Dehydropiandrosteron (DHEA)

Disekresi oleh sel retikularis kelenjar adrenal. Sinyal pensekresi berupa ACTH.

3. 17-b estradiol

Disekresi oleh sel sertoli. Sinyal pensekresi berupa FSH. Pada laki – laki berfungsi sebagai umpan balik negative pada sintesis testosterone oleh sel Leydig.

4. Androgen

Androgen merangsang replikasi sel dalam sebagian jaringan sasaran

B. HORMON – HORMON YANG BERKAITAN DENGAN PROSES GAMETOGENESIS PADA WANITA

Ovarium menghasilkan ovum dan hormone steroid estrogen, progesterone, androgen dan prekursornya. Ovarium juga menghasilkan relaksin, inhibin, prostaglandin dan bahan – bahan lain.

Hormon pada wanita :

Hormone yang dihasilkan hipotalamus : LHRH (Luteinizing hormone – Realising hormone)

Hormone dari hipofises anterior, yaitu :

FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone), kedua hormone ini disekresi sebagai respon terhadap hormone yang dikeluarkan oleh hipofise anterior.

Hormone dari ovarium : estrogen dan progesterone, kedua hormone ini disekresi sebagai respon terhadap hormone LH dan FSH.

Fisiologi reproduksi wanita lebih kompleks daripada pria, pada wanita pengeluaran ovum terjadi pada waktu – waktu tertentu dan sekresi hormone mengikuti suatu siklus.

1. Estrogen

Ovarium merupakan penghasil estrogen utama. Estrogen dihasilkan oleh folikel dan korpus luteum pada ovarium dan plasenta selama kehamilan. 17-b estradiol merupakan hormone estrogen primer yang asalnya dari ovarium. Pada kehamilan, plasenta menghasilkan estriol dalam jumlah yang lebih melimpah. Ovarium mensekresi estradiol (E2) dan estron (E1) sedangkan plasenta mensekresi estron (E1), estradiol (E2) dan estriol (E3). Ovarium juga menghasilkan progesterone dalam jumlah besar selama fase luteal dari siklus.

Produksi estrogen terjadi terutama dalam sel granulose ovarium. Sekresi estrogen meningkat, respon terhadap pelepasan FSH dari hipofise anterior. Pada nucleus hipotalamus dan gonadotrop kelenjar hipofise anterior, peningkatan kadar estradiol serum menekan pelepasan GnRH dan FSH melalui efek umpan balik negative. Sel folikel juga menghasilkan inhibin yang mempunyai efek umpan balik negative pada pelepasan FSH.

Estrogen disekresi terbanyak oleh ovarium dan dalam jumlah lebih kecil oleh korteks adrenal. Dalam plasma terdapat dalam 3 bentuk :

Beta estradiol, merupakan estrogen utama yang terbanyak dihasilkan ovarium

Estron, dihasilkan ovarium dan korteks adrenal

Estriol, dihasilkan ovarium dalam jumlah sedikit.

2. Progestreon

Progesteron disekresi oleh korpus luteum (Fase luteal siklus menstruasi). Sinyal pensekresi berasal dari LH

3. Androgen & Relaksin

Ovarium normal menghasilkan androgen poten. Wanita normal menghasilkan 300 mg testosterone dalam 24 jam dan seperempatnya dibentuk langsung di ovarium.

Relaksin

Relaksin merupakan polipeptida yang diekstraksi dari ovarium. Relaksin berperan dalam persalinan, yaitu menyebabkan relaksasi dari ligamentum pelvis dan melunakkan serviks uteri. Relaksin dijumpai dalam ovarium, plasenta, uterus dan dalam darah.

4. Hormon Plasenta

Fungsi hormon plasenta adalah untuk mempertahankan kehamilan. Plasenta memastikan komunikasi efektif antara ibu dan janin yang tengah berkembang, sementara tetap memelihara keutuhan imun dan genetic dari kedua individu.

a. Human Chorionic Gonadotrophin (hCG)

Secara structural hamper sama dengan LH, hCG merupakan glikoprotein yang terdiri dari 237 asam amino. Pada minggu – minggu pertama kehamilan kadar hCG meningkat 2 kali lipat. Puncak kadar Hcg akan tercapai dalam pertengahan trimester pertama dan selanjutnya mengalami penurunan. Hcg dihasilkan oleh jaringan trofoblast. Sekresi hcg secara cepat meningkat setelah implantasi dan mencapai maksimum 7 hari setelah ovulasi. Kadar hcg kemudian menurun sampai rendah pada 16 minggu setelah ovulasi. Kadar yang rendah berada hingga waktu persalinan.

b. Progestin / progesterone

Korpus luteum merupakan sumber utama progesterone pada kehamilan 6 – 8 minggu pertama, selanjutnya diambil alih oleh plasenta.

c. Estrogen

Konsentrasi estradiol, estron dan estriol dalam plasma akan meningkat sepanjang kehamilan. Estrogen menyebabkan pembesarn uterus dan payudara dan pertumbuhan jaringan kelenjar mamae. Hormone ini juga menyebabkan pembesaran genitalia ekternalwanita dan relaksasi berbagai ligament pelvis, memudahkan pengeluaran janin.

d. Human Placental Laktogen

Hpl dibentuk oleh sintitiotrofoblast plasenta, disebut juga korionik somatomamotropin (hcs) atau hormone pertumbuhan plasenta.

C. FUNGSI HORMON REPRODUKSI PADA PRIA

Peristiwa spermatogenesis terjadi pada semua tubulus seminiferus yang dimulai pada usia 13 tahun oleh karena rangsangan hormone gonadotropin dari hipofise anterior. Peristiwa ini akan berlangsung sepanjang kehidupan.

Pada tubulus seminiferus sel germinativum akan tumbuh menjadi spermatogonia, kemudian menjadi spermatosit primer. Satu spermatosit primer mengalami miosis menjadi dua spermatosit sekunder dibawah pengaruh testosterone. Selanjutnya satu spermatosit sekunder mengalami mitosis menjadi dua spermatid dan akhirnya menjadi spermatozoa dibawah pengaruh FSH. Dari sel germinativum sampai menjadi spermatozoa berlangsung ± 75 hari.

Testis diatur oleh dua hormone gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofise anterior, yaitu :

LH merangsang sel Leydig untuk mengatur sekresi testosterone

FSH mempengaruhi tubulus seminiferus pada sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis.

Sekresi LH dan FSH dirangsang oleh hipotalamus (GnRH). Tiap 2 – 3 jam GnRH dilepas dari hipotalamus yang merangsang hipofisis anterior untuk mensekresi FSH dan LH secara pulsatif. Selain itu, inhibin dan testosterone juga mempengaruhi FSH dan LH.

Testosteron menimbulkan umpan balik negative terhadap GnRH, FSH dan LH, efek ini lebih jelas pada LH daripada FSH.

Inhibin disekresi oleh sel sertoli yang bekerja pada hipofisis anterior untuk menghambat FSH. Testosteron dan FSH mempengaruhi sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis.

Aktivitas GnRH meningkat pada masa pubertas pada usia ± 8 – 12 tahun. Awal pubertas sekresi GnRH secara pulsatif hanya pada malam hari, LH meningkat dan testosterone meningkat. Peningkatan sekresi GnRH yang episodic berlangsung sampai dewasa.

Fungsi testosterone dapat dibagi menjadi 5 kategori :

1. Mempengaruhi system reproduksi :

Maskulinisasi, saluran reproduksi dan genitalia eksterna

Membantu penurunan testis kedalam skrotum, setelah lahir, sekresi testosterone berhenti, testis dan system reproduksi kecil dan belum berfungsi sampai pubertas

Sebelum lahir testosterone dibentuk oleh testis fetus.

2. Mempengaruhi jaringan spesifik seks setelah lahir :

Membantu pematangan dan pertumbuhan system reproduksi saat pubertas

Menjaga dan mempertahankan fungsi reproduksi selama usia reprodukstif (dewasa)

spermatogenesis

3. Pengaruh terhadap system reproduksi lain

Meningkatkan dorongan seks pada pubertas (meningkatkan libido)

Mengatur sekresi hormone gonadotropin

4. Pengaruh terhadap sifat kelamin sekunder

Merangsang pertumbuhan otot, membentuk garis tubuh pria

Penebalan pita suara, pembesaran laring dan hipertropimukosa laring sehingga suara menjadi bernada rendah dan berat. (fungsi anabolic protein estrogen)

Efisiensi testis menurun pada usia 45 – 55 tahun, penurunan sirkulasi testosterone oleh karena proses degenerative pembuluh darah kecil dalam testis.

5. Pengaruh yang bukan bersifat reproduktif

Meningkatkan sekresi kelenjar sebasea, timbul jerawat

Kulit menjadi lebih tebal dan kasar

Keotakan yang disebabkan oleh factor genetic dan kadar hormone androgen yang tinggi.

Metabolism basal meningkat sampai 15 %

Peningkatan sel darah merah, jumlah seritrosit pria lebih banyak 700.000 sel / ml daripada wanita.

D. FUNGSI HORMON REPRODUKSI PADA WANITA

1. Estrogen

Fungsi utama merangsang proliferasi sel dan pertumbuhan jaringan organ kelamin dan jaringan organ lain yang berhubungan dengan organ reproduksi. Pada masa kanak – kanak estrogen disekresi sedikit, pada pubertas, sekresi meningkat sampai 20 kali lipat di bawah pengaruh hipofise anterior.

Efek estrogen :

Pertumbuhan uterus, vagina, tub falopii, labia myora dan labia minora menyerupai dewasa.

Pembentukan epitel vaginadari tipe kuboid menjadi epitel bertingkat yang lebih tahan terhadap infeksi dan trauma.

Kelenjar berproliferasi untuk memberikan nutrisi kepada ovum dan uterus.

Pembuluh darah dan epitel bersilia yang mengelilingi tuba falopii bertambah banyak, bergerak kearah uterus untuk mendorong ovum

Petumbuhan jaringan stroma, perkembangan system duktus dan penambahan deposit lemak payudara meningkat.

Aktivitas osteoblast meningkat pada tulang rangka, sehingga laju pertumbuhan waktu pubertas meningkat beberapa tahun, pada wanita lebih cepat berhenti.

Merangsang proliferasi sel granulose dan pematangan folikel

Pematangan telur

Meningkatkan transport sperma dengan merangsang kontraksi uterus ke arah atas dan kontraksi tuba falopii.

Merangsang pertumbuhan endometrium dan miometrium

Merangsang sintesis resptor progesterone di endometrium dan reseptor oksitosin di miometrium pada kehamilan.

Mengontrol sekresi GnRH dan gonadotropin

Menghambat aksi prolaktin terhadap sekresi ASI selama kehamilan.

Protein total tubuh meningkat, terjadi keseimbangan nitrogen tubuh

Deposisi lemak pada subkutan, payudara dan bokong

Kulit jadi lembut dan halus akibat peningkatan androgen adrenal, jumlah keringat meningkat sehingga timbul jerawat.

Fungsi Estrogen :

Merangsang sekretorik pada endometrium selama setengah akhir siklus seksual wanita dan menyiapkan lingkungan yang baik untuk memberi makan embrio / fetus yang tumbuh.

Merangsang pembentukan mucus serviks yang kental

Menghambat sekresi GnRH dan gonadotropin

Merangsang perkembangan alveolus dan lobuler kelenjar mamae.

Pada tuba falopii meningkatkan sekresi untuk nutrisi dari ovum yang dibuahi

Menghambat aksi prolaktin terhadap pengeluaran ASI selama kehamilan.

Menghambat kontraksi uterus selama kehamilan

Metabolism protein yang dialirkan ke janin.

2. Hormon Plasenta & Fungsinya

Estrogen, merangsang pertumbuhan dan kekuatan uterus

Progesterone, mencegah uterus tidak berkontraksi pada waktu kehamilan, merangsang pembentukan lobus alveoli kelenjar mamae, mempersiapkan kelenjar mamae untuk laktasi, merangsang sntesis reseptor oksitosin pada akhir kehamilan, membentuk mucus serviks yang kental untuk mencegah infeksi.

Human Chorionic somatomamotropin (hcs) atau laktogen plasenta, merangsang enzim pembentukan ASI, mengurangi utilisasi glukosa ibu, sehingga lebih banyak glukosa yang digunakan janin.

Mempertahankan keseimbangan protein

Relaksin, melepaskan serviks dan ligament uterus pada saat melahirkan.

3. Siklus Mestruasi

Selama fase pertama siklus mestruasi (fase folikuler), FSH yang disekresi oleh hipofise anterior, merangsang produksi estradiol oleh sel granulose ovarium. FSH dan estradiolmenyebabkan proliferasi sel tersebut dan produksi estradiol meningkat. Hormone ini juga merangsang produksi reseptor LH. Estradiol bekerja pada endometrium uterus, menyebabkan penebalan dan tervaskularisasi sebagai persiapan untuk implantasi sel telur yang dibuahi.

Puncak kadar estradiol mendekati midpoint siklus menstruasi (sekita hari ke – 14) memicu gelombang LH dari hipofise anterior. LH merangsang ovulasi. Sel yang tersisa didalam folikelsetelah ovulasi akan membentuk korpus luteum, yang mulai mensekresi estradiol dan progesterone.

Selama fase kedua mestruasi (fase luteal) progesterone bersama estradiol, meyebabkan endometrium terus menebal. Peningkatan vaskularisasi juga terjadi dan sel endometrium berdiferensiasi dan menjadi bersekresi.

Sekitar seminggu setelah pembentukannya, korpus luteum mulai mundur, produksi estradiol dan progesterone menurun. Sampai hari ke – 28 dalam siklus, kadar steroid ovarium tidak cukup untuk mendukung penebalan endometrium dan akhirnya mengelupas masuk ke uterus dan diekskresikan. Buangan darah ini melalui vagina, disebut menstruasi. Menstruasi biasanya berakhir 3 – 5 hari dan menghasilkan maksimum sekitar 50 ml cairan.

Kadar estradiol dan progesterone yang rendah pada akhir siklus mestruasi menghilangkan inhibisi umpan balik sekresi GnRH hipotalamus. Kadar GnRH meningkat dan merangsang sekresi FSH dan LH oleh hipofise anterior dan siklus baru pun dimulai.

One thought on “Hello world!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s