Dilema Etik / Moral Pelayanan Kebidanan

PENDAHULUAN

Fungsi pengetahuan etik bagi bidan adalah memberikan bantuan yang positif bagi bidan untuk menghindarkan dari prasangka dalam melakukan pekerjaannya. Etik memliki dimensi kode etik, yaitu : anggota profesi & klien, anggota profesi & sistem kesehatan, anggota profesi & profesi kesehatan, sesama anggota profesi

Kode etik merupakan suatu pernyataan komprehensif profesi yang memberikan tuntunan bagi bidan untuk melaksanakan praktek kebidanan baik yang berhubungan dengan klien, keluarga masyarakat, teman sejawat, profesi dan dirinya sendiri

Kode etik memiliki prinsip, yaitu :

  1. Menghargai otonomi
  2. Melakukan tindakan yang benar
  3. Mencegah tindakan yang dapat merugikan
  4. Memperlakukan manusia secara adil
  5. Menjelaskan dengan benar
  6. Menepati janji yang telah disepakati
  7. Menjaga kerahasiaan

Kode etik suatu profesi adalah berupa norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi yang bersangkutan di dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma-norma tersebut berisi petunjuk-petunjuk bagi anggota profesi tentang bagaimana mereka harus menjalankan profesinya dan larangan-larangan, yaitu ketentuan tentang apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat oleh anggota profesi, tidak saja dalam menjalankan tugas profesinya, melainkan juga menyangkut tingkah laku pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari di dalam masyarakat. Kode etik memiliki tujuan, yaitu menjunjung tinggi martabat dan citra profesi, menjaga & memelihara kesejahteraan para anggota, meningkatkan pengabdian para anggota profesi dan meningkatkan mutu profesi

Fungsi kode etik adalah sebagai :

1. Panduan, kode etik memberi bantuan dalam memberikan panduan dengan fasilitasdalam menjalankan pekerjaan profesional

2. Peraturan, menentukan beberapa peraturan dalam suatu kelompok profesi seperti tanggung jawab moral, tindakan yang standar, nilai-nilai khas suatu profesi, izin profesi.

3. Disiplin, mengatur tingkah laku yang melanggar hukum dengan mengidentifikasi dan menentukan jenis tindakan serta membuat instrument yang menjadi peraturan tetap dimana profesi berada.

4. Pelindung, melindungi masyarakat termasuk anggota masyarakat yang menerima profesi.

5. Informasi, memberikan informasi kepada masyarakat diluar profesi (Klien, kolega, pekerja, masy) tentang standar shg profesi mendapat kepercayaan.

6. Pernyataan, menyatakan eksistensi dengan mengumumkan aspirasi kelompok ttg status profesi dgn kehormatan moral dan otonomi

7. Negosiasi, menyediakan alat dalam negosiasi dan perdebatanantara profesi, colega, pekerjaan, pemerintah dengan memberikan penjelasan ttg kebenaran sikap termasuk tindakan.

KODE ETIK KEBIDANAN

Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntunan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi. Kode etik bidan Indonesia pertama kali disusun pada tahun 1986 dan disyahkan dalam kongres Nasional IBI X tahun 1988, sedang petunjuk pelaksanaannya disyahkan dalam rapat kerja Nasional (Rakernas) IBI tahun 1991, sebagai pedoman dalam berprilaku. Kode etik bidan Indonesia mengandung beberapa kekuatan yang semuanya tertuang dalam mukadimah, tujuan dan bab

  1. Kewajiban bidan terhadap klien dan masy (6)
  2. Kewajiban bidan terhadap tugasnya (3)
  3. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya (2)
  4. Kewajiban bidan terhadap profesinya (3)
  5. Kewajiban bidan terhadap dirinya sendiri (2)
  6. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa bangsa dan tanah air (2)
  7. Penutup (1)

KEWAJIBAN TERHADAP KLIEN DAN MASYARAKAT

  1. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah jabatabnya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya
  2. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan
  3. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat
  4. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, menghormati nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
  5. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimiliki.
  6. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal

KEWAJIBAN TERHADAP TUGASNYA

  1. Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien keluarga dan masyarakat
  2. Setiap bidan berhak memberikan pertolongan dan mempunyai kewenangan dalam mengambil keputusan dalam tugasnya termasuk keputusan mengadakan konsultasi dan atau rujukan
  3. Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat dan atau dipercayakan kepadanya, kecuali diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP SEJAWAT DAN TENAGA KESEHATAN LAINNYA

  1. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi
  2. Setiap tindakan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP PROFESINYA

  1. Setiap bidan harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesinya dengan menampilkan kepribadian yang tinggi dan memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat
  2. Setiap bidan harus senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
  3. Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya

KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP DIRI SENDIRI

  1. Setiap bidan harus memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik
  2. Setiap bidan seyogyanya berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi

KEWAJIBAN TERHADAP PEMERINTAH, NUSA, BANGSA DAN TANAH AIR

  1. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga
  2. Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikirannya kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga

URAIAN MATERI

Etik sebagai filsafat moral, mencari jawaban untuk menentukan serta mempertahankan secara rasional teori yang berlaku tentang benar salah, baik buruk, yang secara umum dipakai sebagai suatu perangkat prinsip moral yang menjadi pedoman suatu tindakan.

Bidan dihadapkan pada dilema etik Ø membuat keputusan dan bertindak didasarkan atas keputusan yg dibuat berdasarkan Intuisi Ø mereflekasikan pada pengalamannya atau pengalaman rekan kerjanya.

Contoh : persalinan dengan KPD Û pasien menolak

Terdapat 4 prinsip etika yg umumnya digunakan dalam praktek kebidanan :

1. Autonomy : memperhatikan penguasaan diri, hak akan kebebasan & pilihan individu.

2. Beneficence : Memperhatikan peningkatan kesejahteraan klien Ø berbuat yg terbaik untuk orang lain.

3. Non Malefecence : tidak menimbulkan kerugian untuk orang lain Ø jng membuat kerugian.

4. Justice ; memperhatikan keadilan & keuntungan

Dilema = konflik, berada di antara 2 pilihan, dua tipe konflik :

1. Konflik dalam prinsip

2. Konflik 2 prinsip

A. MASALAH – MASALAH ETIK MORAL YANG MUNGKIN TERJADI DALAM PRAKTEK KEBIDANAN

1. Masalah Etik Moral Yang Mungkin Terjadi

Bidan harus memahami dan mengerti situasi etik moral, yaitu :

1) Untuk melakukan tindakan yang tepat dan berguna.

2) Untuk mengetahui masalah yang perlu diperhatikan

Kesulitan dalam mengatasi situasi :

1) Kerumitan situasi dan keterbatasan pengetahuan kita

2) Pengertian kita terhadap situasi sering diperbaruhi oleh kepentingan, prasangka, dan faktor-faktor subyektif lain

Langkah-langkah penyelesaian masalah :

1) Melakukan penyelidikan yang memadai

2) Menggunakan sarana ilmiah dan keterangan para ahli

3) Memperluas pandangan tentang situasi

4) Kepekaan terhadap pekerjaan

5) Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain

Masalah Etik Moral yang mungkin terjadi dalam praktek kebidanan :

1) Tuntutan bahwa etik adalah hal penting dalam kebidanan karena :

Bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat

Bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil

2) Untuk dapat menjalankan praktik kebidanan dengan baik dibutuhkan :

Pengetahuan klinik yang baik

Pengetahuan yang Up to date

Memahami issue etik dalam pelayanan kebidanan

3) Harapan Bidan dimasa depan :

Bidan dikatakan profesional, apabila menerapkan etika dalam menjalankan praktik kebidanan (Daryl Koehn ,Ground of Profesional Ethis,1994)

Dengan memahami peran bidan à tanggung jawab profesionalisme terhadap patien atau klien akan meningkat

Bidan berada dalam posisi baik à memfasilitasi klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang etika untuk menerapkan dalam strategi praktik kebidanan

B. PEMBAGIAN DILEMA / KONFLIK ETIK

Pembagian konflik etik meliputi empat hal :

Informed Concent

Negosiasi

Persuasi

Komite etik

Menurut Culver and Gert ada 4 komponen yang harus dipahami pada suatu consent atau persetujuan :

1. Sukarela (Voluntariness)

Sukarela mengandung makna pilihan yang dibuat atas dasar sukarela tanpa ada unsur paksaan didasari informasi dan kompetensi

2. Informasi (Information)

Jika pasien tidak tahu sulit untuk dapat mendeskripsikan keputusan. Dalam berbagai kode etik pelayanan kesehatan bahwa informasi yang lengkap dibutuhkan agar mampu keputusan yang tepat.

Kurangnya informasi atau diskusi tentang risiko, efek samping akan membuat klien sulit mengambil keputusan

3. Kompetensi (Competence)

Dalam konteks consent kompetensi bermakna suatu pemahaman bahwa seseorang membutuhkan sesuatu hal untuk mampu membuat keputusan yang tepat bahkan ada rasa cemas dan bingung

4. Keputusan (decision)

Pengambilan keputusan merupakan suatu proses, dimana merupakan persetujuan tanpa refleksi. Pembuatan keputusan merupakan tahap terakhir proses pemberian persetujuan.Keputusan penolakan pasien terhadap suatu tindakan harus di validasi lagi apakah karena pasien kurang kompetensi.

1. Informed Consent

Pesetujuan yang diberikan pasien atau walinya yang berhak terhadap bidan, untuk melakukan suatu tindakan kebidanan kepada pasien setelah memperoleh informasi lengkap dan dipahami mengenai tindakan yang akan dilakukan. Informed consent merupakan suatu proses. Secara hukum informed consent berlaku sejak tahun 1981 PP No.8 tahun 1981.

Informed consent bukan hanya suatu formulir atau selembar kertas, tetapi bukti jaminan informed consent telah terjadi. Merupakan dialog antara bidan dan pasien di dasari keterbukaan akal pikiran, dengan bentuk birokratisasi penandatanganan formulir. Informed consent berarti pernyataan kesediaan atau pernyataan setelah mendapat informasi secukupnya sehingga setelah mendapat informasi sehingga yang diberi informasi sudah cukup mengerti akan segala akibat dari tindakan yang akan dilakukan terhadapnya sebelum ia mengambil keputusan. Berperan dalam mencegah konflik etik tetapi tidak mengatasi masalah etik, tuntutan, pada intinya adalah bidan harus berbuat yang terbaik bagi pasien atau klien.

a. Dimensi informed consent

1) Dimensi hukum, merupakan perlindungan terhadap bidan yang berperilaku memaksakan kehendak, memuat :

Keterbukaan informasi antara bidan dengan pasien

Informasi yang diberikan harus dimengerti pasien

Memberi kesempatan pasien untuk memperoleh yang terbaik

2) Dimensi Etik, mengandung nilai – nilai :

Menghargai otonomi pasien

Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila diminta atau dibutuhkan

Bidan menggali keinginan pasien baik secara subyektif atau hasil pemikiran rasional

b. Syarat Sahnya Perjanjian Atau Consent (KUHP 1320)

1) Adanya Kata Sepakat

Sepakat dari pihak bidan maupun klien tanpa paksaan, tipuan maupun kekeliruan setelah diberi informasi sejelas – jelasnya.

2) Kecakapan

Artinya seseorang memiliki kecakapan memberikan persetujuan, jika orang itu mampu melakukan tindakan hukum, dewasa dan tidak gila.

Bila pasien seorang anak, yang berhak memberikan persetujuan adalah orangtuanya, pasien dalam keadaan sakit tidak dapat berpikir sempurna shg ia tidak dapat memberikan persetujuan untuk dirinya sendiri, seandainya dalam keadaan terpaksa tidak ada keluarganya dan persetujuan diberikan oleh pasien sendiri dan bidan gagal dalam melakukan tindaknnya maka persetujuan tersebut dianggap tidak sah.

Contoh :

Bila ibu dalam keadaan inpartu mengalami kesakitan hebat, maka ia tidak dapat berpikir dengan baik, maka persetujuan tindakan bidan dapat diberikan oleh suaminya, bila tidak ada keluarga atau suaminya dan bidan memaksa ibu untuk memberikan persetujuan melakukan tindakan dan pada saat pelaksanaan tindakan tersebut gagal, maka persetujuan dianggap tidak sah.

3) Suatu Hal Tertentu

Obyek persetujuan antara bidan dan pasien harus disebutkan dengan jelas dan terinci.

Misal :

Dalam persetujuan ditulis dengan jelas identitas pasien meliputi nama, jenis kelamin, alamat, nama suami, atau wali. Kemudian yang terpenting harus dilampirkan identitas yang membuat persetujuan

4) Suatu Sebab Yang Halal

Isi persetujuan tidak boleh bertentangan dengan undang – undang, tata tertib, kesusilaan, norma dan hukum

contoh :

abortus provocatus pada seorang pasien oleh bidan, meskipun mendapatkan persetujuan si pasien dan persetujuan telah disepakati kedua belah pihak tetapi dianggap tidak sah sehingga dapat dibatalkan demi hukum

c. Segi Hukum Informed Consent

Pernyataan dalam informed consent menyatakan kehendak kedua belah pihak, yaitu pasien menyatakan setuju atas tindakan yang dilakukan bidan dan formulir persetujuan ditandatangani kedua belah pihak, maka persetujuan tersebut mengikat dan tidak dapat dibatalkan oleh salah satu pihak.

Informed consent tidak meniadakan atau mencegah diadakannya tuntutan dimuka pengadilan atau membebaskan RS atau RB terhadap tanggungjawabnya bila ada kelalaian. Hanya dapat digunakan sebagai bukti tertulis adan adanya izin atau persetujuan dari pasien terhadap diadakannya tindakan.

Formulir yang ditandatangani pasien atau wali pada umumnya berbunyi segala akibat dari tindakan akan menjadi tanggung jawab pasien sendiri dan tidak menjadi tanggung jawab bidan atau rumah bersalin. Rumusan tersebut secara hukum tidak mempunyai kekuatan hukum, mengingat seseorang tidak dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya atas kesalahan yang belum dibuat.

d. Masalah Yang Lazim Terjadi Pada Informed Consent

Pengertian kemampuan secara hukum dari orang yang akan menjalani tindakan, serta siapa yang berhak menandatangani.

Masalah wali yang sah. Timbul apabila pasien atauibu tidak mampu secar hukum untuk menyatakan persetujuannya.

Masalah informasi yang diberikan, seberapa jauh informasi dianggap telah dijelaskan dengan cukup jelas, tetapi juga tidak terlalu rinci sehingga dianggap menakut – nakuti

Dalam memberikan informasi apakah diperlukan saksi, apabila diperlukan apakah saksi perlu menanda tanagani form yang ada. Bagaimana menentukan saksi?

Dalam keadaan darurat, misal kasus perdarahan pada bumil dan kelaurga belum bisa dihubungi, dalam keadaan begini siapa yang berhak memberikan persetujuan, sementara pasien perlu segera ditolong.

C. MENGHADAPI MASALAH ETIK MORAL DAN DILEMA DALAM PRAKTEK KEBIDANAN

Menurut Daryl Koehn (1994) bidan dikataka profesional bila dapat menerapkan etika dalam menjalankan praktik.

Bidan ada dalam posisi baik yaitu memfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang etika untuk menetapkan dalam strategi praktik kebidanan

1. Informed Choice

Informed choice adalah membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentan alternatif asuhan yang akan dialaminya.

Menurut kode etik kebidanan internasionl (1993) bidan harus menghormati hak informed choice ibu dan meningkatkan penerimaan ibu tentang pilihan dalam asuhan dan tanggungjawabnya terhadap hasil dari pilihannya

Definisi informasi dalam konteks ini meliputi : informasi yang sudah lengkap diberikan dan dipahami ibu, tentang pemahaman resiko, manfaat, keuntungan dan kemungkinan hasil dari tiap pilihannya.

Pilihan (choice) berbeda dengan persetujuan (consent) :

a. Persetujuan atau consent penting dari sudut pandang bidan karena berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang akan dilakukan bidan

b. Pilihan atau choice penting dari sudut pandang klien sebagai penerima jasa asuhan kebidanan, yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang sesungguhnya dan menerapkan aspek otonomi pribadi menentukan “ pilihannya” sendiri.

2. Bagaimana Pilihan Dapat Diperluas dan Menghindari Konflik

Memberi informai yang lengkap pada ibu, informasi yang jujur, tidak bias dan dapat dipahami oleh ibu, menggunakan alternatif media ataupun yang lain, sebaiknya tatap muka.

Bidan dan tenaga kesehatan lain perlu belajar untuk membantu ibu menggunakan haknya dan menerima tanggungjawab keputusan yang diambil.

Hal ini dapat diterima secara etika dan menjamin bahwa tenaga kesehatan sudah memberikan asuhan yang terbaik dan memastikan ibu sudah diberikan informsi yang lengkap tentang dampak dari keputusan mereka

Untuk pemegang kebijakan pelayanan kesehatan perlu merencanakan, mengembangkan sumber daya, memonitor perkembangan protokol dan petunjuk teknis baik di tingkat daerah, propinsi untuk semua kelompok tenaga pemberi pelayanan bagi ibu.

Menjaga fokus asuhan pada ibu dan evidence based, diharapkan konflik dapat ditekan serendah mungkin

Tidak perlu takut akan konflik tetapi mengganggapnya sebagai sutu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang obyektif bermitra dengan wanita dari sistem asuhan dan tekanan positif pada perubahan

3. Beberapa Jenis Pelayanan Yang Dapat Dipilih Klien

Bentuk pemeriksaan ANC dan skrening laboratorium ANC

Tempat melahirkan

Masuk ke kamar bersalin pada tahap awal persalinan

Di dampingi waktu melahirkan

Metode monitor djj

Augmentasi, stimulasi, induksi

Mobilisasi atau posisi saat persalinan

Pemakaian analgesia

Episiotomi

Pemecahan ketuban

Penolong persalinan

Keterlibatan suami pada waktu melahirkan

Teknik pemberian minuman pada bayi

Metode kontrasepsi

A. KONSEP PERSALINAN

Proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). (Manuaba; 1999)

Proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin; 2001).

1. Bentuk Persalinan

Persalinan Spontan à kekuatan ibu sendiri

Persalinan Buatan à dengan bantuan tenaga dari luar

Persalinan Anjuran.

2. Tahapan Persalinan

KALA I (Kala pembukaan) à dimulai dari serviks membuka sampai pembukaan lengkap (Primi à ± 13 jam, multi ± 7 jam).

Proses membukanya serviks dibagi dalam 2 fase :

Fase laten à berlangsung 8 jam à pembukaan sampai 3 cm

Fase aktif dibagi dalam 3 fase :

Fase akselerasi à Ө 3-4 cm à 2 jam

Fase Dilatasi Maksimal à Ө 4-9 Cm à 2 Jam

Fase deselerasi à Ө 9-lengkap à 2 jam

Kurve Friedman à Ө primi 1 cm/jam dan multi Ө 2 cm/jam.

Fase aktif persalinan :

Þ Frekwensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat ( kontraksi dianggap adekuat jika terjadi min 3 x 10`, durasi 40 detik atau lebih )

Þ Servik membuka dari 4 ke 10 cm, dengan kec 1 cm atau lebih per jam hingga Ө lengkap (10 cm).

Terjadi penurunan bagian terbawah.

Terjadi lightening

Minggu ke 36 à pada primi à penurunan TFU à kepala bayi sudah masuk PAP :

Kontraksi Braxton Hicks

Ketegangan dinding perut

Ketegangan ligamentum rotundum

Gaya berat janin à kepala ke arah bawah

Hal-hal yang dirasakan ibu pada waktu kepala janin masuk PAP :

Terasa ringan di bagian atas, rasa sesaknya berkurang

Di bagian bawah terasa sesak

Terjadi kesulitan saat berjalan

Sering miksi

Terjadinya his permulaan

Sifat his permulaan :

Rasa nyeri ringan di bagian bawah

Datangnya tidak teratur

Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda

Durasinya pendek

Tidak berambah bila beraktifitas

Tanda dan gejala inpartu

Penipisan dan pembukaan serviks

Kontraksi uterus min : 2 x 10 menit

keluarnya lendir bercampur darah

Tanda Persalinan

Terjadinya his persalinan

His persalinan mempunyai sifat :

Pinggang terasa sakit dan menjalar ke depan

Sifatnya teratur, interval makin pendek dan kekuatannya makin besar

Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks

Makin beraktifitas (jalan) kekuatannya makin bertambah

Pengeluaran lendir dan darah (Blood show)

Pendataran dan pembukaan

Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas

Perdarahan à kapiler pembuluh darah pecah

Pengeluaran cairan à ketuban pecah à persalinan harus berlangsung dalam 24 jam.

KALA II à kala pengeluaran à pembukaan lengkap sampai bayi lahir à 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.

Tanda dan gejala kala II :

Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya

Perineum terlihat menonjoL

Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka

Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

KALA III (Kala uri) à dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit à penanganan dengan manajemen aktif kala III.

KALA IV (kala pemantauan)à dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam post partum

B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MEKANISME PERSALINAN

Hal – hal yang mempengaruhi terjadinya persalinan, passage, passenger, power, position, psyche, namun yang akan kita bahas kali ini adalah Passage (Panggul/Pelvis) dan Passanger (Fetal Skull).

1. Passage (Panggul/Pelvis)

Panggul dibentuk oleh 4 (empat) buah tulang :

1) os coxae kiri dan kanan, membentuk dinding lateral dan anterior rongga panggul.

2) os coccygis dan os sacrum, bagian dari columna vertebralis, membentuk dinding posterior rongga panggul.

Os coxae sendiri masing-masing sebenarnya terdiri dari 3 tulang kecil yang bersatu, yaitu os ilium, os ischium dan os pubis.

Rongga Panggul : Rongga panggul dibagi atas dan bawah oleh bidang apertura pelvis superior (dalam obstetri sering disebut sebagai pintu atas panggul, PAP). Apertura pelvis superior dibentuk oleh : – promontorium os sacrum di bagian posterior – linea iliopectinea (linea terminalis dan pectenossis pubis) di bagian lateral – symphisis os pubis di bagian anterior

Dinding-dinding rongga panggul :

1) Dinding anterior : pendek, dibentuk oleh corpus, rami dan symphisis ossium pubis

2) Dinding posterior : dibentuk oleh permukaan ventral os sacrum dan os coccygis serta muskulus pyriformis yang membentang pada permukaan ventral os sacrum dan diliputi oleh fascie pelvis.

3) Dinding lateral : dibentuk oleh bagian os coxae di bawah apertura pelvis superior, membrana obturatoria, ligamentum sacrotuberosum, ligamentum sacrospinosum, dan muskulus obturator internus dengan fascia obturatoria.

4) dinding inferior / dasar panggul : dibentuk oleh diaphragma pelvis (mm.levator ani, mm occygei, fascia diaphragmatis pelvis, trigonum urogenitale) yang berfungsi menahan alat-alat rongga panggul.

Diaphragma pelvis membagi lagi rongga panggul bagian bawah menjadi bagian rongga panggul utama (bagian atas diaphragma pelvis) dan bagian perineum (bagian bawah diaphragma pelvis).

Klasifikasi Panggul (Caldwell – Moloy)

1) tipe gynaecoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips melintang kiri-kanan, hampir mirip lingkaran. Diameter transversal terbesar terletak di tengah. Dinding samping panggul lurus. Merupakan jenis panggul tipikal wanita (female type).

2) tipe anthropoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips membujur anteroposterior. Diameter transversal terbesar juga terletak di tengah. Dinding samping panggul juga lurus. Merupakan jenis panggul tipikal golongan kera (ape type).

3) tipe android : bentuk pintu atas panggul seperti segitiga. Diameter transversal terbesar terletak di posterior dekat sakrum. Dinding samping panggul membentuk sudut yang makin sempit ke arah bawah. Merupakan jenis panggul tipikal pria (male type).

4) tipe platypelloid : bentuk pintu atas panggul seperti “kacang” atau “ginjal”. Diameter transversal terbesar juga terletak di tengah. Dinding samping panggul membentuk sudut yang makin lebar ke arah bawah.

Gray242Gray241PERBEDAAN BENTUK PANGGUL WANITA DAN PRIA

Pelvis Pria Pelvis Wanita (Gynecoid)

1) Pada wanita, dinding pelvis spurium dangkal, SIAS menghadap ke ventral. Pada pria, dinding pelvis spurium tajam / curam, SIAS menghadap ke medial.

2) Pada wanita, apertura pelvis superior berbentuk oval. Pada pria, apertura pelvis superior berbentuk heart- shaped, lengkung, dengan promontorium os sacrum menonjol ke anterior.

3) Pada wanita, pelvis verum merupakan segmen pendek suatu kerucut panjang. Pada pria, pelvis verum merupakan segmen panjang suatu kerucut pendek.

4) Pada wanita, ukuran-ukuran diameter rongga panggul lebih besar (perbedaan sampai sebesar 0.5-1.5 cm) dibandingkan ukuran-ukuran diameter rongga panggul pria.

5) Pada wanita, apertura pelvis inferior berbentuk bundar, diameter lebih besar. Pada pria, apertura pelvis inferior berbentuk lonjong dan kecil.

6) Pada wanita, angulus subpubicus adalah sudut lebar / besar. Pada pria, angulus subpubicus merupakan sudut tajam / kecil.

BEBERAPA UKURAN PANGGUL WANITA YANG MEMILIKI MAKNA / KEPENTINGAN OBSTETRIK

Diameter anteroposterior pintu atas panggul (conjugata interna, conjugata vera)11.5 cm

Jarak antara promontorium os sacrum sampai tepi atas symphisis os pubis. Tidak dapat diukur secara klinik pada pemeriksaan fisis.

Secara klinik dapat diukur conjugata diagonalis, jarak antara promontorium os sacrum dengan tepi bawah symphisis os pubis, melalui pemeriksaan pelvimetri per vaginam. CD – 1.5 cm

Diameter obliqua pintu atas panggul 12.5 cm

Jarak dari sendi sakroiliaka satu sisi sampai tonjolan pektineal sisi kontralateralnya (oblik/menyilang).

Diameter transversa pintu atas panggul 12.5 cm

Diameter terpanjang kiri-kanan dari pintu atas panggul. Bukan sungguh “diameter” karena tidak melalui titik pusat pintu atas panggul.

Diameter / distantia interspinarum pada rongga panggul 10.5 cm. Jarak antara kedua ujung spina ischiadica kiri dan kanan.

Diameter anteroposterior pintu bawah panggul 9.5 cm

Jarak antara ujung os coccygis sampai pinggir bawah symphisis os pubis.

Diameter transversa pintu bawah panggul 11 cm

Jarak antara bagian dalam dari kedua tuberositas os ischii.

Diameter sagitalis posterior pintu bawah panggul 7.5 cm

Jarak antara bagian tengah diameter transversa sampai ke ujung os sacrum.

Pintu Atas Panggul

Pintu atas panggul merupakan bidang yang dibentuk oleh promotorium korpus vertebra sakrak ke 1, linea innominata (terminalis) dan pinggir atas simphisis.

Panjang jarak pinggir atas simphisis ke promotorium ± 11 cm (Conjugata Vera)

Jarak terjauh garis melintang pada pintu atas panggul ± 12,5 – 13 cm (diameter transversa).

Gray238

Pintu Bawah Panggul

Pintu bawah panggul bukan merupakan suatu bidang datar, tetapi tesusun atas dua bidang datar yang masing – masing berbentuk segitiga, yaitu bidang yang dibentuk oleh garis antara kedua ossis iskii dengan ujung os sacrum dan segitiga lainnya yang alasnya juga garis antara kedua tubera ossis iskii dengan bagian bawah simphisis.

Jarak antara kedua tuber ossis iskii (distansia tuberum) adalah ± 10,5 cm.

Gray239

Bidang – Bidang Hodge :

Bidang – bidang hodge ini dipelajari untuk menentukan sampai dimanakah bagian terendah janin turun dalam panggul pada persalinan :

* Bidang Hodge I : dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul dengan batas bagian atas simphisis dan promotorium.

* Bidang Hodge II : sejajar dengan Hodge I terletak setinggi bagian bawah simphisis.

* Bidang Hodge III : sejajar dengan bidang – bidang hodge I dan II terletak setinggi spina isiadika kanan dan kiri

* Bidang Hodge IV : sejajar dengan bidang – bidang hodge I, II dan III, terletak setinggi os cocsigis.

Stasiun

Stasiun merupakan hubungan antara bagian paling bawah bagian presentasi dan garis imaginer yang ditarik diantara spina siadika, pelvis wanita, yang terletak sejajar dengan spina isiadika disebut stasion 0, Stasiun diukur diatas atau dibawah tingkat isiadika (dalam cm) jika diatas ditulus stasiun -1, -2, – 3, -4, -5, jika dibawah spina isiadika ditulis stasiun +1, +2, +3, +4, +5. Stasiun -5 menunjukan bahwa kepala dalam posisi mengapung dan stasiun +5 berarti bahwa kepala berada orifisium vagina.

Umumnya, gambaran stasiun 0 digunakan secara tidak akurat, untuk menyatakan bahwa kepala sudah menancap (engagement). Stasiun kadang kala sulit dipastikan, jika kepala janin sudah mengalami molase dan caput succedaneum sudah terbentuk.

PERKIRAAN UKURAN RATA-RATA PANGGUL WANITA NORMAL

Pintu atas panggul (pelvic inlet)

Diameter transversa (DT) + 13.5 cm. Conjugata vera (CV) + 12.0 cm.

Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 22.0 cm.

Pintu tengah panggul (mid pelvis)

Distansia interspinarum (DI) + 10.5 cm. Diameter anterior posterior (AP) + 11.0 cm.

Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 20.0 cm.

Pintu bawah panggul (pelvic outlet)

Diameter anterior posterior (AP) + 7.5 cm. Distansia intertuberosum + 10.5 cm.

Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 16.0 cm.

Bila jumlah rata-rata ukuran pintu-pintu panggul tersebut kurang, maka panggul tersebut kurang sesuai untuk proses persalinan

2. Passanger (Fetal Skull)

Pada persalinan kepala anak merupakan hal penting, besar kepala janin dan luasnya panggul merupakan hal yg menentukan

TULANG KEPALA ( CRANIUM) :

Tulang hidung (os Nasale)

Tulang pipi (Os Zygomaticum, 2 buah)

Tulang rahang atas (os Maxilare)

Tulang rahang bawah (Os Mandibulare)

BAGIAN TENGKORAK

Tulang dahi (os frontale, 2 buah)

Tulang ubun – ubun (os parietal, 2 buah)

Tulang pelipis (os temporale, 2 buah)

Tulang belakang kepala (os Ocipitale)

Sebelah dalam ada tulang baji (os sphenoidale) dan tulang tapisan (os ethmoidale)

Antara tulang – tulang terdapat sela tengkorak (sutura) yang memungkinkan terjadi pergeseran, kalau kepala tertekan maka tulang satu bergeser dgn tulang lain hingga ukuran kepala menjadi lebih kecil (moulage)

Sutura Sagitalis ; sela panah, antara kedua parietal

Sutura Koronaria ; sela mahkota, antara os frontale dan os parietal

Sutura lamboidea ; antara os ocipitale dan kedua os parietal

Sutura frontalis ; antara kedua os frontale

3

DAERAH – DAERAH BAGIAN KEPALA

§ Sinsiput ( depan kepala )

§ Vertex ( puncak kepala )

§ Occiput ( belakang kepala )

UKURAN DIAMETER KEPALA

§ Diameter Occipito – frontalis : 12 cm (letak puncak kepala)

§ Diameter Mento – Occipitalis : 13 cm (letak dahi)

§ Diameter SubOcipito – bregmatica : 9 cm (letak belakang kepala)

UKURAN CIRCUMFERENSIA (KELILING KEPALA)

§ Circ fronto – occipitalis : 34 cm

§ Circ mento – occipitalis : 35 cm

§ Circ suboccip – brgmatica : 32 cm

Synclitism & Asynclitism: Sinklitismus bila arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang atas panggul. Dan dikatakan asinklitismus bila arah sumbu kepala janin miring dengan bidang atas panggul. Asinklitismu anterior (Neagle) ialah apabila arah sumbu kepala membuat sudut lancip kedepan dengan pintu atas panggul. Dapat pula asinklitismus posterior (Litzman) dalam keadaan sebaliknya. Keadaan asinklitismus anterior lebih menguntungkan karena ruanga pelvis didaerah posterior lebih luas disbanding ruang pelvis didaerah anterior.

Gerakan Kardinal:

Dipengaruhi oleh ukuran dan posisi janin, kekuatan kontraksi uterus (HIS), ukuran dan bentuk panggul ibu, serta posisi ibu.

Enam macam gerakan cardinal :

1. Engagement & Descent

2. Flexion

3. Internal rotation (putar paksi dalam)

4. Extension

5. Restitution & External rotation of the shoulders (putar paksi luar)

6. Expulsion

L3

Posisi Kepala : sering disebut denominator yang menunjukan posisi kepala janin dalam panggul ibu. Dibagi menjadi 4 kuadran (Kanan & Kiri depan, kanan & kiri belakang).

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

* Engagement dan Descent:

Kepala janin masuk kedalam panggul dengan diameter biparietal kepala janin telah mencapai pintu atas panggul (melewati spina isiadika, atau station 0).

Descent (penurunan) : merupakan hasil dari beberapa kekuatan, kontraksi uterus (yang memperkuat tulang pungung janin, menyebabkan fundus langsung menempel pada bokong)

* Flexion (Fleksi) : diameter suboksipitobregmatika yang lebih kecil digantikan dengan diameter kepala janin yang lebih besar yang terjadi ketika kepala janin tidak dalam keadaan fleksi sempurna. Fleksi terjadi ketika kepala janin bertemu dengan tahanan.

* Internal Rotation (putar paksi dalam) : menyebabkan diameter anteriorposterior kepala janin sejajar dengan diameter anterior posterior pelvis ibu, dibawah simphisis pubis.

*

Extension : untuk mengeluarkan oksiput anterior, ekstensi harus terjadi ketika oksiput berada dibagian anterior karena kekuatan tahanan pada dasar pelvis yang membentuk smbu carus, yang mengarahkan kepala keatas menuju pintu bawah vulva. Daerah suboksipital/tengkuk mengenai bagian bawah simphisis pubis dan bertindak sebagai titik putar (hipomoglion).

* Restitution & External Rotation: adalah rotasi kepala 45 derajat baik kerah kanan maupun kiri, bergantung pada arah dari tempat kepala berotasi ke posisi oksiput – anterior.

External Rotation: terjadi pada saat bahu berotasi 45 derajat, menyebabkan diameter bisakromial bahu ke diameter anteroposterior pelvis ibu.

* Expulsion:

PERBANDINGAN /CARA PENILAIAN PENURUNAN KEPALA JANIN BERDASARKAN PALPASI DAN PEMERIKSAAN DALAM

PERIKSA LUAR (PALPASI)

PERIKSA DALAM

KETERANGAN

= 55

Kepala diatas PAP, mudah digerakkan

= 4/5

H I – II

Sulit digerakkan, bagian terbesar kepala belum masuk panggul

= 3/5

H II – III

Bagian besar kepala belum masuk panggul

= 2/5

H III +

Bagian terbesar kepala sudah masuk panggul

= 1/5

H III – IV

Kepala didasar panggul

= 0/5

H IV

Di perineum

Hello world!

A. HORMON – HORMON YANG BERKAITAN DENGAN PROSES GAMETOGENESIS PADA PRIA

Hormone reproduksi pria dihasilkan oleh sel – sel Leydig testis maupun kelenjar adrenal. Tiga steroid utama yang penting untuk fungsi reproduksi pria adalah testosterone, dihidrotestosteron dan estradiol. Hampir 95 % testosterone dihasilkan oleh jaringan intertisial sel Leydig dan sisanya dari adrenal. Selain testosterone, testis juga menghasilkan dihidrotestosteron dan androgen lemah yaitu dihidropiandosteron (DHEA) dan androstenedion. Sel – sel Leydig juga menghasilkan sedikit estradiol, estron dan pregnenolon, progesterone, 17a-hidroksipregnenolon dan 17a-hidroksiprogesteron.

Hormone yang menstimulasi proses spermatogenesis :

Testosterone, disekresi oleh sel – sel Leydig

LH disekresi oleh hipofise anterior, merangsang sel – sel Leydig untuk mensekresi testosterone.

FSH, mempengaruhi tubulus seminiferus pada sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis.

Estrogen

Growth Hormone

1. Testosteron

Testosterone adalah hormone steroid yang berasal dari prekusornya yaitu kolesterol. Testosterone dihasilkan oleh sel – sel Leydig yang pertama kali dihasilkan pada saat janin berumur 7 minggu dibawah pengaruh Hcg dan sekresi ini berhenti pada saat bayi pria berusia 1 minggu. Pada usia 1 minggu sampai pubertas (10/13 tahun) sekresi berhenti. Setelah usia 13 tahun sel Leydig aktif kembali, sekresi testosterone meningkat dengan tajam dan mencapai puncaknya pada usia dewasa.

2. Dehydropiandrosteron (DHEA)

Disekresi oleh sel retikularis kelenjar adrenal. Sinyal pensekresi berupa ACTH.

3. 17-b estradiol

Disekresi oleh sel sertoli. Sinyal pensekresi berupa FSH. Pada laki – laki berfungsi sebagai umpan balik negative pada sintesis testosterone oleh sel Leydig.

4. Androgen

Androgen merangsang replikasi sel dalam sebagian jaringan sasaran

B. HORMON – HORMON YANG BERKAITAN DENGAN PROSES GAMETOGENESIS PADA WANITA

Ovarium menghasilkan ovum dan hormone steroid estrogen, progesterone, androgen dan prekursornya. Ovarium juga menghasilkan relaksin, inhibin, prostaglandin dan bahan – bahan lain.

Hormon pada wanita :

Hormone yang dihasilkan hipotalamus : LHRH (Luteinizing hormone – Realising hormone)

Hormone dari hipofises anterior, yaitu :

FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone), kedua hormone ini disekresi sebagai respon terhadap hormone yang dikeluarkan oleh hipofise anterior.

Hormone dari ovarium : estrogen dan progesterone, kedua hormone ini disekresi sebagai respon terhadap hormone LH dan FSH.

Fisiologi reproduksi wanita lebih kompleks daripada pria, pada wanita pengeluaran ovum terjadi pada waktu – waktu tertentu dan sekresi hormone mengikuti suatu siklus.

1. Estrogen

Ovarium merupakan penghasil estrogen utama. Estrogen dihasilkan oleh folikel dan korpus luteum pada ovarium dan plasenta selama kehamilan. 17-b estradiol merupakan hormone estrogen primer yang asalnya dari ovarium. Pada kehamilan, plasenta menghasilkan estriol dalam jumlah yang lebih melimpah. Ovarium mensekresi estradiol (E2) dan estron (E1) sedangkan plasenta mensekresi estron (E1), estradiol (E2) dan estriol (E3). Ovarium juga menghasilkan progesterone dalam jumlah besar selama fase luteal dari siklus.

Produksi estrogen terjadi terutama dalam sel granulose ovarium. Sekresi estrogen meningkat, respon terhadap pelepasan FSH dari hipofise anterior. Pada nucleus hipotalamus dan gonadotrop kelenjar hipofise anterior, peningkatan kadar estradiol serum menekan pelepasan GnRH dan FSH melalui efek umpan balik negative. Sel folikel juga menghasilkan inhibin yang mempunyai efek umpan balik negative pada pelepasan FSH.

Estrogen disekresi terbanyak oleh ovarium dan dalam jumlah lebih kecil oleh korteks adrenal. Dalam plasma terdapat dalam 3 bentuk :

Beta estradiol, merupakan estrogen utama yang terbanyak dihasilkan ovarium

Estron, dihasilkan ovarium dan korteks adrenal

Estriol, dihasilkan ovarium dalam jumlah sedikit.

2. Progestreon

Progesteron disekresi oleh korpus luteum (Fase luteal siklus menstruasi). Sinyal pensekresi berasal dari LH

3. Androgen & Relaksin

Ovarium normal menghasilkan androgen poten. Wanita normal menghasilkan 300 mg testosterone dalam 24 jam dan seperempatnya dibentuk langsung di ovarium.

Relaksin

Relaksin merupakan polipeptida yang diekstraksi dari ovarium. Relaksin berperan dalam persalinan, yaitu menyebabkan relaksasi dari ligamentum pelvis dan melunakkan serviks uteri. Relaksin dijumpai dalam ovarium, plasenta, uterus dan dalam darah.

4. Hormon Plasenta

Fungsi hormon plasenta adalah untuk mempertahankan kehamilan. Plasenta memastikan komunikasi efektif antara ibu dan janin yang tengah berkembang, sementara tetap memelihara keutuhan imun dan genetic dari kedua individu.

a. Human Chorionic Gonadotrophin (hCG)

Secara structural hamper sama dengan LH, hCG merupakan glikoprotein yang terdiri dari 237 asam amino. Pada minggu – minggu pertama kehamilan kadar hCG meningkat 2 kali lipat. Puncak kadar Hcg akan tercapai dalam pertengahan trimester pertama dan selanjutnya mengalami penurunan. Hcg dihasilkan oleh jaringan trofoblast. Sekresi hcg secara cepat meningkat setelah implantasi dan mencapai maksimum 7 hari setelah ovulasi. Kadar hcg kemudian menurun sampai rendah pada 16 minggu setelah ovulasi. Kadar yang rendah berada hingga waktu persalinan.

b. Progestin / progesterone

Korpus luteum merupakan sumber utama progesterone pada kehamilan 6 – 8 minggu pertama, selanjutnya diambil alih oleh plasenta.

c. Estrogen

Konsentrasi estradiol, estron dan estriol dalam plasma akan meningkat sepanjang kehamilan. Estrogen menyebabkan pembesarn uterus dan payudara dan pertumbuhan jaringan kelenjar mamae. Hormone ini juga menyebabkan pembesaran genitalia ekternalwanita dan relaksasi berbagai ligament pelvis, memudahkan pengeluaran janin.

d. Human Placental Laktogen

Hpl dibentuk oleh sintitiotrofoblast plasenta, disebut juga korionik somatomamotropin (hcs) atau hormone pertumbuhan plasenta.

C. FUNGSI HORMON REPRODUKSI PADA PRIA

Peristiwa spermatogenesis terjadi pada semua tubulus seminiferus yang dimulai pada usia 13 tahun oleh karena rangsangan hormone gonadotropin dari hipofise anterior. Peristiwa ini akan berlangsung sepanjang kehidupan.

Pada tubulus seminiferus sel germinativum akan tumbuh menjadi spermatogonia, kemudian menjadi spermatosit primer. Satu spermatosit primer mengalami miosis menjadi dua spermatosit sekunder dibawah pengaruh testosterone. Selanjutnya satu spermatosit sekunder mengalami mitosis menjadi dua spermatid dan akhirnya menjadi spermatozoa dibawah pengaruh FSH. Dari sel germinativum sampai menjadi spermatozoa berlangsung ± 75 hari.

Testis diatur oleh dua hormone gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofise anterior, yaitu :

LH merangsang sel Leydig untuk mengatur sekresi testosterone

FSH mempengaruhi tubulus seminiferus pada sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis.

Sekresi LH dan FSH dirangsang oleh hipotalamus (GnRH). Tiap 2 – 3 jam GnRH dilepas dari hipotalamus yang merangsang hipofisis anterior untuk mensekresi FSH dan LH secara pulsatif. Selain itu, inhibin dan testosterone juga mempengaruhi FSH dan LH.

Testosteron menimbulkan umpan balik negative terhadap GnRH, FSH dan LH, efek ini lebih jelas pada LH daripada FSH.

Inhibin disekresi oleh sel sertoli yang bekerja pada hipofisis anterior untuk menghambat FSH. Testosteron dan FSH mempengaruhi sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis.

Aktivitas GnRH meningkat pada masa pubertas pada usia ± 8 – 12 tahun. Awal pubertas sekresi GnRH secara pulsatif hanya pada malam hari, LH meningkat dan testosterone meningkat. Peningkatan sekresi GnRH yang episodic berlangsung sampai dewasa.

Fungsi testosterone dapat dibagi menjadi 5 kategori :

1. Mempengaruhi system reproduksi :

Maskulinisasi, saluran reproduksi dan genitalia eksterna

Membantu penurunan testis kedalam skrotum, setelah lahir, sekresi testosterone berhenti, testis dan system reproduksi kecil dan belum berfungsi sampai pubertas

Sebelum lahir testosterone dibentuk oleh testis fetus.

2. Mempengaruhi jaringan spesifik seks setelah lahir :

Membantu pematangan dan pertumbuhan system reproduksi saat pubertas

Menjaga dan mempertahankan fungsi reproduksi selama usia reprodukstif (dewasa)

spermatogenesis

3. Pengaruh terhadap system reproduksi lain

Meningkatkan dorongan seks pada pubertas (meningkatkan libido)

Mengatur sekresi hormone gonadotropin

4. Pengaruh terhadap sifat kelamin sekunder

Merangsang pertumbuhan otot, membentuk garis tubuh pria

Penebalan pita suara, pembesaran laring dan hipertropimukosa laring sehingga suara menjadi bernada rendah dan berat. (fungsi anabolic protein estrogen)

Efisiensi testis menurun pada usia 45 – 55 tahun, penurunan sirkulasi testosterone oleh karena proses degenerative pembuluh darah kecil dalam testis.

5. Pengaruh yang bukan bersifat reproduktif

Meningkatkan sekresi kelenjar sebasea, timbul jerawat

Kulit menjadi lebih tebal dan kasar

Keotakan yang disebabkan oleh factor genetic dan kadar hormone androgen yang tinggi.

Metabolism basal meningkat sampai 15 %

Peningkatan sel darah merah, jumlah seritrosit pria lebih banyak 700.000 sel / ml daripada wanita.

D. FUNGSI HORMON REPRODUKSI PADA WANITA

1. Estrogen

Fungsi utama merangsang proliferasi sel dan pertumbuhan jaringan organ kelamin dan jaringan organ lain yang berhubungan dengan organ reproduksi. Pada masa kanak – kanak estrogen disekresi sedikit, pada pubertas, sekresi meningkat sampai 20 kali lipat di bawah pengaruh hipofise anterior.

Efek estrogen :

Pertumbuhan uterus, vagina, tub falopii, labia myora dan labia minora menyerupai dewasa.

Pembentukan epitel vaginadari tipe kuboid menjadi epitel bertingkat yang lebih tahan terhadap infeksi dan trauma.

Kelenjar berproliferasi untuk memberikan nutrisi kepada ovum dan uterus.

Pembuluh darah dan epitel bersilia yang mengelilingi tuba falopii bertambah banyak, bergerak kearah uterus untuk mendorong ovum

Petumbuhan jaringan stroma, perkembangan system duktus dan penambahan deposit lemak payudara meningkat.

Aktivitas osteoblast meningkat pada tulang rangka, sehingga laju pertumbuhan waktu pubertas meningkat beberapa tahun, pada wanita lebih cepat berhenti.

Merangsang proliferasi sel granulose dan pematangan folikel

Pematangan telur

Meningkatkan transport sperma dengan merangsang kontraksi uterus ke arah atas dan kontraksi tuba falopii.

Merangsang pertumbuhan endometrium dan miometrium

Merangsang sintesis resptor progesterone di endometrium dan reseptor oksitosin di miometrium pada kehamilan.

Mengontrol sekresi GnRH dan gonadotropin

Menghambat aksi prolaktin terhadap sekresi ASI selama kehamilan.

Protein total tubuh meningkat, terjadi keseimbangan nitrogen tubuh

Deposisi lemak pada subkutan, payudara dan bokong

Kulit jadi lembut dan halus akibat peningkatan androgen adrenal, jumlah keringat meningkat sehingga timbul jerawat.

Fungsi Estrogen :

Merangsang sekretorik pada endometrium selama setengah akhir siklus seksual wanita dan menyiapkan lingkungan yang baik untuk memberi makan embrio / fetus yang tumbuh.

Merangsang pembentukan mucus serviks yang kental

Menghambat sekresi GnRH dan gonadotropin

Merangsang perkembangan alveolus dan lobuler kelenjar mamae.

Pada tuba falopii meningkatkan sekresi untuk nutrisi dari ovum yang dibuahi

Menghambat aksi prolaktin terhadap pengeluaran ASI selama kehamilan.

Menghambat kontraksi uterus selama kehamilan

Metabolism protein yang dialirkan ke janin.

2. Hormon Plasenta & Fungsinya

Estrogen, merangsang pertumbuhan dan kekuatan uterus

Progesterone, mencegah uterus tidak berkontraksi pada waktu kehamilan, merangsang pembentukan lobus alveoli kelenjar mamae, mempersiapkan kelenjar mamae untuk laktasi, merangsang sntesis reseptor oksitosin pada akhir kehamilan, membentuk mucus serviks yang kental untuk mencegah infeksi.

Human Chorionic somatomamotropin (hcs) atau laktogen plasenta, merangsang enzim pembentukan ASI, mengurangi utilisasi glukosa ibu, sehingga lebih banyak glukosa yang digunakan janin.

Mempertahankan keseimbangan protein

Relaksin, melepaskan serviks dan ligament uterus pada saat melahirkan.

3. Siklus Mestruasi

Selama fase pertama siklus mestruasi (fase folikuler), FSH yang disekresi oleh hipofise anterior, merangsang produksi estradiol oleh sel granulose ovarium. FSH dan estradiolmenyebabkan proliferasi sel tersebut dan produksi estradiol meningkat. Hormone ini juga merangsang produksi reseptor LH. Estradiol bekerja pada endometrium uterus, menyebabkan penebalan dan tervaskularisasi sebagai persiapan untuk implantasi sel telur yang dibuahi.

Puncak kadar estradiol mendekati midpoint siklus menstruasi (sekita hari ke – 14) memicu gelombang LH dari hipofise anterior. LH merangsang ovulasi. Sel yang tersisa didalam folikelsetelah ovulasi akan membentuk korpus luteum, yang mulai mensekresi estradiol dan progesterone.

Selama fase kedua mestruasi (fase luteal) progesterone bersama estradiol, meyebabkan endometrium terus menebal. Peningkatan vaskularisasi juga terjadi dan sel endometrium berdiferensiasi dan menjadi bersekresi.

Sekitar seminggu setelah pembentukannya, korpus luteum mulai mundur, produksi estradiol dan progesterone menurun. Sampai hari ke – 28 dalam siklus, kadar steroid ovarium tidak cukup untuk mendukung penebalan endometrium dan akhirnya mengelupas masuk ke uterus dan diekskresikan. Buangan darah ini melalui vagina, disebut menstruasi. Menstruasi biasanya berakhir 3 – 5 hari dan menghasilkan maksimum sekitar 50 ml cairan.

Kadar estradiol dan progesterone yang rendah pada akhir siklus mestruasi menghilangkan inhibisi umpan balik sekresi GnRH hipotalamus. Kadar GnRH meningkat dan merangsang sekresi FSH dan LH oleh hipofise anterior dan siklus baru pun dimulai.